Tampilkan postingan dengan label renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label renungan. Tampilkan semua postingan

Apa Aku Harus Sedih atau Harus Bahagia?

Cinta segitiga ini ternyata dah berlangsung lama.

Aku mengira ini haynya kecurigaan biasa yang sering jadi perdebatan dan salah paham, akan tetapi ternya memang seperti itu kenyataan pada akhirnya. Kau telah mendua, sejak 03 Maret 2011. Dimana saat itu aku hanya terbaling terkulai lemas kerena sakit.
aku mengakuinya tak bisa membahagiakanmu..tapi aku juga bukan tak ingin melakukannya.
kuikhlaskan dengan berat hati bertanya" jika kau sudah tak ingin denganku atau kau sudah bahagia bersama yang lain tinggalkan aku TAPI jangan bohongi aku sekecil apapun". masih teringat ucapnku itu..tetpa saja kau tarik ulur..dan tak mau lepas dariku.
Hingga akhir semuanya kau akui dan kecewakan aku.
Aku pernah salah besar kepadamu, aku tak pernah berpikir sedikitpun untuk meningalkanmu, tak pernah sedikitpun aku merasa bahagia dengan keadaanku sekarang.LUCUNYA kau malah enak"an sudah berbohong dan sekarang TERTAWA mengejeku.
saat kau mengakui,kau berjanji "AKU TIDAK AKAN MEMILIH SIAPAPUN DARI KEDUA"
tapi nyatanya tetep saja berbohong!..
mungkin itu sudah menjadi sifat bawaan dari lahirmu..yang kusayangkan..hidupmu sekarang"SEMOGA SAJA KAU BAHAGIA,dan tak akan pernah berbohong lagi.
===="WANITA memang lemah dan kuat perasaannya, ketika hatinya lemah dan datanglah orang yang menenagkannya selain pasangannya,berubahlah keteguhannya"=====

Air Mata Rosulullah

Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam. “Bolehkah saya masuk?” tanyanya. Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk. “Maafkanlah, ayahku sedang demam”, kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu.
Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah, “Siapakah itu wahai anakku?”.
“Tak tahulah ayahku, sepertinya baru sekali ini aku melihatnya,” tutur Fatimah lembut. Lalu,
Rasulullah menatap puterinya itu dengan pandangan yang menggetarkan. Seolah-olah bagian demi bagian wajah anaknya itu hendak dikenang. “Ketahuilah, dia lah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dia lah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dia lah malaikatul maut,” kata Rasulullah. Fatimah pun menahan ledakan tangisnya. Malaikat maut datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tidak ikut sama menyertainya.

Kemudian dipanggilah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap di atas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini. “Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hadapan Allah?” tanya Rasululllah dengan suara yang amat lemah. “Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu. Semua syurga terbuka lebar menanti kedatanganmu,” kata Jibril.
Tapi itu ternyata tidak membuatkan Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan. “Engkau tidak senang mendengar kabar ini?” tanya Jibril lagi. “Kabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?”
“Jangan khawatir, wahai Rasul! Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku:
“Kuharamkan syurga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada di dalamnya,” kata Jibril. Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan ruh Rasulullah ditarik. Nampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang. “Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini.” Perlahan Rasulullah mengaduh. Fatimah terpejam, Ali yang disampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril memalingkan muka.
“Jijikkah kau melihatku, hingga kau palingkan wajahmu Jibril?” Tanya Rasulullah pada Malaikat
pengantar wahyu itu. “Siapakah yang sanggup, melihat kekasih Allah direnggut ajal,” kata Jibril. Sebentar kemudian terdengar Rasulullah mengaduh, karena sakit yang tidak tertahankan lagi.
“Ya Allah, dahsyat nian maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku.”. Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tidak bergerak lagi. Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu. Ali segera mendekatkan telinganya. “Uushiikum bis shalati, wa maa malakat aimanuku (peliharalah shalat dan peliharalah orang-orang lemah di antaramu)”.

Di luar pintu, tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan. Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan. “Ummatii, ummatii, ummatiii (Umatku, umatku, umatku).”
Dan, berakhirlah hidup manusia mulia yang memberi sinaran itu. Kini, mampukah kita mencintai
sepertinya? Allahumma sholli ‘ala Muhammad wa baarik wa salim ‘alaihi.
sumber:www.suaramerdeka.com